Tenang di Tengah Dunia yang Berisik

Posted on

TENANG DI TENGAH DUNIA YANG BERISIK

By Assoc. Prof. Dr. Al-Habib Segaf Baharun, M.H.I

 

Ahad, 17 Mei 2026 M. 30 Dzul Qo’dah 1447 H.

Di zaman sekarang, manusia hidup di tengah kebisingan. Bising berita, bising media sosial, bising urusan dunia, bahkan bising isi kepala sendiri. Hati menjadi mudah gelisah, pikiran mudah lelah, dan hidup terasa sempit.

Banyak manusia mencari kebahagiaan di tempat yang salah. Mereka mengejarnya melalui harta, jabatan, popularitas, dan pujian manusia. Namun semakin dikejar, sering kali hati justru semakin kosong dan lelah. Karena hakikat kebahagiaan sejati bukan terletak pada banyaknya dunia yang dimiliki, tetapi pada ketenangan hati bersama Allah.

A. Ketenangan Adalah Kebahagiaan Banyak manusia menghabiskan seluruh hidupnya untuk mencari kebahagiaan. Ada yang mencarinya dalam harta, jabatan, popularitas, pujian manusia, rumah mewah, kendaraan mahal, atau banyaknya pengikut dan pengagum. Mereka mengira bahwa semakin banyak dunia yang dimiliki, maka semakin bahagia hidupnya. Padahal kenyataannya tidak demikian.

Betapa banyak orang yang bergelimang harta tetapi sulit tidur karena gelisah. Betapa banyak orang terkenal tetapi hidup dalam tekanan, kecemasan, dan ketakutan kehilangan popularitasnya. Betapa banyak orang yang tertawa di hadapan manusia, tetapi menangis ketika sendirian. Karena hakikat kebahagiaan bukanlah banyaknya kenikmatan dunia, tetapi tenangnya hati.

Kebahagiaan sejati adalah ketika hati merasa dekat dengan Allah, ridha terhadap takdir-Nya, dan merasa cukup dengan apa yang diberikan-Nya. Seseorang mungkin hidup sederhana, rumahnya kecil, hartanya tidak banyak, pakaiannya biasa saja, tetapi ia tidur dengan tenang, bangun dengan hati lapang, tidak iri kepada orang lain, tidak dipenuhi ambisi dunia yang melelahkan. Maka orang seperti ini sesungguhnya lebih bahagia daripada banyak manusia yang hidup dalam kemewahan tetapi kehilangan ketenangan. Allah Ta’ala berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Ayat ini menunjukkan bahwa sumber ketenangan bukanlah dunia, tetapi dzikir kepada Allah. Karena hati manusia diciptakan oleh Allah, maka tidak ada yang mampu menenangkan hati kecuali Allah. Semakin jauh hati dari Allah, semakin mudah gelisah. Sebaliknya, semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin tenang jiwanya walaupun hidupnya penuh ujian.

B. Tanda Ketenangan adalah Tidak Ada Rasa Takut dan Sedih. Salah satu tanda hati yang tenang adalah tidak dikuasai oleh rasa takut dan kesedihan yang berlebihan. Bukan berarti seseorang tidak pernah merasa sedih atau khawatir, karena itu adalah fitrah manusia. Namun hati orang yang beriman tidak tenggelam dalam ketakutan dan kesedihan, sebab ia memiliki sandaran yang kuat, yaitu Allah SWT. Allah Ta’ala berfirman:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Yunus: 62)

Para Wali Alloh tidak takut terhadap apa yang akan datang dan tidak larut dalam kesedihan terhadap apa yang telah berlalu. Karena hati mereka dipenuhi keyakinan kepada Allah. Mereka yakin bahwa rezeki sudah diatur Allah, ajal sudah ditentukan Allah, musibah terjadi dengan izin Allah, dan semua takdir Allah pasti mengandung hikmah. Karena keyakinan inilah hati mereka lebih tenang dibanding manusia yang hanya bersandar kepada dunia.

Orang yang bergantung kepada dunia akan selalu takut kehilangan, takut miskin, takut gagal, takut tidak dihargai, takut masa depan, takut kehilangan jabatan, takut kehilangan manusia yang dicintai. Semakin besar cintanya kepada dunia, biasanya semakin besar pula ketakutannya.

Sedangkan orang yang bergantung kepada Allah akan lebih tenang. Jika kehilangan dunia, ia yakin Allah masih bersamanya. Jika manusia meninggalkannya, ia yakin Allah tidak meninggalkannya. Jika hidup terasa berat, ia yakin bahwa pertolongan Allah sangat dekat.

C. Hakikat Kebahagiaan. Hakikat kebahagiaan bukanlah banyaknya dunia yang dimiliki, tetapi hati yang ridha, jiwa yang tenang, iman yang kuat, dan kedekatan dengan Allah SWT. Karena kebahagiaan sejati itu berada di dalam hati, bukan di luar diri manusia.

Seseorang bisa hidup sederhana tetapi sangat bahagia karena hatinya dipenuhi iman dan rasa cukup. Sebaliknya, seseorang bisa hidup dalam kemewahan tetapi hatinya sempit, penuh kecemasan, iri, dan ketakutan. Rasulullah bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan itu bukanlah banyaknya harta, tetapi kekayaan hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini adalah kaidah besar dalam memahami hakikat kebahagiaan. Orang yang kaya hati akan merasa cukup dengan apa yang Allah berikan kepadanya. la tidak selalu melihat ke atas dalam urusan dunia. la mudah bersyukur, mudah merasa cukup, dan tidak terus-menerus membandingkan hidupnya dengan orang lain.

Sedangkan orang yang miskin hati akan selalu merasa kurang walaupun hartanya banyak, ia tetap gelisah walaupun rumahnya besar, ia masih iri dengan rumah orang lain walaupun sudah mendapatkan banyak nikmat, ia masih merasa hidupnya kurang bahagia. Karena masalah utamanya bukan pada sedikit atau banyaknya dunia, tetapi pada kondisi hati.

Kebahagiaan juga bukan berarti hidup tanpa masalah. Tidak ada manusia di dunia ini yang hidup tanpa ujian. Orang kaya diuji dengan hartanya. Orang miskin diuji dengan kekurangannya. Orang sehat diuji dengan kesehatannya. Orang sakit diuji dengan sakitnya.

Namun orang yang bahagia adalah orang yang mampu tetap dekat kepada Allah dalam setiap keadaan. Ketika mendapat nikmat, ia bersyukur. Ketika mendapat musibah, ia bersabar. Ketika berdosa, ia segera bertaubat. Hatinya selalu kembali kepada Allah. Inilah kebahagiaan seorang mukmin.

Hakikat kebahagiaan juga bukan pada banyak tertawa atau bersenang-senang. Ada orang yang sering tertawa di depan manusia, tetapi batinnya penuh luka dan kegelisahan. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana dan tidak banyak hiburan dunia, tetapi wajahnya teduh, lisannya penuh dzikir, dan hatinya damai. Karena kebahagiaan sejati berasal dari iman. Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً

“Barang siapa beramal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sungguh Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97)

Para ulama menjelaskan bahwa “kehidupan yang baik” mencakup hati yang tenang, jiwa yang lapang, qana’ah, dan ketenteraman batin. Bukan berarti hidupnya selalu mewah atau bebas dari masalah.

D. Apakah Mungkin Mendapat Kebahagiaan Sempurna di Dunia? Dunia bukan tempat kebahagiaan yang sempurna. Dunia adalah tempat ujian, tempat kelelahan, tempat perubahan, dan tempat sementara sebelum manusia menuju akhirat. Karena itu, siapa yang berharap mendapatkan kesempurnaan hidup di dunia, maka ia akan banyak kecewa.

Di dunia tidak ada kebahagiaan yang terus-menerus. Tidak ada kenikmatan yang abadi. Tidak ada keadaan yang selalu sesuai keinginan manusia. Kadang manusia sehat, lalu sakit. Kadang kaya, lalu miskin. Kadang dipuji, lalu dicela. Kadang berkumpul, lalu berpisah. Kadang tertawa, lalu menangis. Beginilah sifat dunia. Allah Ta’ala berfirman:

لَقَدْ خَلَقْن الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ

“Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4)

Artinya kehidupan dunia memang penuh perjuangan dan ujian. Tidak ada manusia yang terbebas darinya, bahkan para nabi yang merupakan manusia terbaik pun mengalami ujian yang sangat berat.

Ini menunjukkan bahwa dunia memang bukan tempat istirahat yang sempurna. Oleh sebab itu Allah menjadikan surga sebagai tempat kebahagiaan yang hakiki dan abadi. Di surga tidak ada kesedihan, rasa takut, sakit, kecewa, kematian, maupun perpisahan. Allah Ta’ala berfirman:

لَا يَمَسُّهُمْ فِيهَا نَصَبٌ وَمَا هُمْ مِنْهَا بِمُخْرَجِينَ

“Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka tidak akan dikeluarkan darinya.” (QS. Al-Hijr: 48)

Inilah kebahagiaan sempurna yang sebenarnya. Bukan di dunia, tetapi di akhirat. Karena itu Rasulullah bersabda:

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim).

E. Bagaimana Cara Mendapat Kebahagiaan di Dunia?. Setiap manusia ingin hidup bahagia. Namun tidak semua manusia mengetahui jalan menuju kebahagiaan yang sebenarnya. Sebagian orang mencarinya dengan menumpuk harta. Sebagian mencarinya dengan popularitas. Sebagian lagi mengejarnya melalui hiburan dan kesenangan dunia.

Tetapi semakin dikejar, sering kali hati justru semakin lelah dan kosong. Karena kebahagiaan sejati bukan hanya tentang senangnya jasad, tetapi tenangnya hati. Dan hati tidak akan tenang kecuali jika dekat dengan Allah SWT.

Berikut beberapa jalan untuk mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan hidup:

1. Dekat Dengan Allah Inilah sumber kebahagiaan terbesar dalam hidup manusia. Semakin dekat seseorang dengan Allah, semakin lapang dadanya, semakin ringan bebannya, dan semakin tenang jiwanya. Karena orang yang dekat dengan Allah tahu bahwa ia tidak sendirian menghadapi kehidupan.

Kedekatan dengan Allah dibangun dengan menjaga shalat, membaca Al-Qur’an, memperbanyak dzikir, menjauhi maksiat, dan memperbaiki keikhlasan.

2. Memperbanyak Dzikir dan Doa Dzikir adalah makanan hati. Sebagaimana tubuh membutuhkan makanan, hati juga membutuhkan dzikir. Hati yang jauh dari dzikir akan mudah cemas, gelisah, sempit dan kosong.

Dzikir membuat hati selalu terhubung dengan Allah. Ketika manusia banyak berdzikir, ia akan lebih mudah sabar, lebih mudah ridha, dan lebih kuat menghadapi ujian.

Begitu pula doa. Doa bukan hanya permintaan, tetapi bentuk ketergantungan seorang hamba kepada Rabbnya. Betapa banyak kegelisahan yang hilang setelah seseorang bersujud dan mengadu kepada Allah di waktu malam.

3. Ridha Dengan Takdir Allah Tidak semua yang kita inginkan akan terjadi. Dan tidak semua yang kita sukai baik bagi kita. Sebagian manusia hidup dalam kegelisahan karena terus memaksa dunia berjalan sesuai keinginannya.

Padahal hati akan lebih tenang ketika belajar menerima takdir Allah dengan ridha. Ridha bukan berarti tidak sedih atau tidak berusaha. Tetapi ridha adalah menerima ketentuan Allah dengan hati yang tunduk dan yakin bahwa pilihan Allah lebih baik daripada pilihan dirinya sendiri. Allah Ta’ala berfirman:

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ

“Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal itu baik bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Betapa banyak manusia yang dahulu menangis karena kehilangan sesuatu, lalu akhirnya sadar bahwa kehilangan itu justru menyelamatkannya. Dan betapa banyak manusia yang dahulu sangat menginginkan sesuatu, namun ternyata hal itu menjadi sebab kesulitannya. Karena ilmu manusia terbatas, sedangkan Allah Maha Mengetahui.

4. Tidak Terlalu Mengejar Dunia Dunia yang terlalu dicintai akan melahirkan kelelahan dan ketakutan kehilangan. Semakin besar ketergantungan hati kepada dunia, semakin mudah hati itu gelisah. Takut kehilangan harta. Takut kehilangan jabatan. Takut kehilangan pujian manusia. Takut kalah dari orang lain. Padahal dunia hanyalah sementara. Rasulullah bersabda:

مَنْ جَعَلَ الْهُمُومَ هَمَّا وَاحِدًا هَمَّ الْآخِرَةِ كَفَاهُ اللَّهُ هَمَّ دُنْيَاهُ

“Barang siapa menjadikan akhirat sebagai fokus utamanya, maka Allah akan mencukupi urusan dunianya.” (HR. Ibnu Majah)

Bukan berarti Islam melarang mencari dunia. Namun dunia tidak boleh menjadi tujuan utama hidup. Jika akhirat menjadi tujuan utama, maka dunia akan berada di tangan, bukan di hati.

5. Bersyukur Salah satu rahasia terbesar kebahagiaan adalah syukur. Orang yang pandai bersyukur akan lebih mudah bahagia daripada orang yang terus membandingkan hidupnya dengan orang lain.

Hari ini banyak manusia gelisah bukan karena kurang nikmat, tetapi karena terlalu sibuk melihat nikmat orang lain. Padahal jika manusia mau melihat ke bawah, ia akan sadar betapa banyak nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya, baik kesehatan, keluarga, iman, makanan, udara, kesempatan hidup, dan masih banyak lagi.

Syukur membuat hati merasa cukup. Sedangkan membandingkan diri dengan manusia akan membuat hati terus merasa kurang. Karena itu Rasulullah mengajarkan agar dalam urusan dunia kita melihat kepada orang yang berada di bawah kita, agar kita lebih mudah bersyukur.

“Ya Allah, jadikanlah dalam hati kami ketenangan dan ketenteraman. Karuniakanlah kepada kami kebahagiaan dalam ketaatan kepada-Mu. Jauhkan kami dari rasa takut dan kesedihan, dan jadikan akhirat kami lebih baik daripada dunia kami.”