By Assoc. Prof. Dr. Al-Habib Segaf Baharun, M.H.I.
A. Pendidikan Seorang Anak: Fondasi Generasi Anti Badai. Hal yang paling penting di dalam meraih keinginan kita terkait anak yang dilahirkan untuk menjadi investasi akhirat kita, adalah mendidik mereka dengan pendidikan Islam yang kokoh, agar mereka tidak mudah goyah oleh fitnah akhir zaman. Dengan cara mendidik mereka dengan pendidikan islami yang sesuai dengan ajaran Nabi kita Muhammad Saw, Sebagaimana dijelaskan oleh Nabi Saw di dalam hadits dibawah ini, bahwasanya bagaimana corak pendidikan maupun moral spiritual dari seorang anak, ditentukan oleh ayahnya. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw:
كُلِّ مَوْلُودِ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوَدَانِهِ أَوْ يُنصَرَانِهِ أَوْ يُمَحِّسَانِهِ.
“Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah, Hanya saja kedua orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai seorang Yahudi, Nasrani atau majusi”.
Maka berdasarkan hadits tersebut diatas. Kita simpulkan bahwasanya anak adalah sebuah investasi terbesar bagi orangtua, baik di dunia maupun di akhirat. Tergantung bagaimana kita menerapkan pendidikan kepada anak kita tersebut. Di zaman penuh fitnah ini, anak yang tidak dibekali sejak kecil akan mudah terpengaruh lingkungan buruk, lemah prinsip dan goyah dalam akidah dan akhlak. Sebaliknya, anak yang dididik dengan benar akan menjadi kokoh seperti gunung, tidak mudah terombang-ambing dan teguh memegang agama.
Oleh karenanya Al-Habib Abdullah bin Husain Bin Thohir beliau berkata: “Setiap anak yang dilahirkan dapat dijadikan oleh kedua orangtuanya sebagai rajanya wali pada masanya, tergantung kepada upaya dan usaha kedua orang tuanya, walaupun hal itu ditentukan dengan izin dan kehendak Allah atau menjadi Fir’aun zamannya (menjadi manusia paling bejat pada zaman itu). Semuanya tergantung bagaimana kedua orangtuanya menerapkan pendidikan terhadap anak-anaknya tersebut”.

Dan semua orang-orang yang berhasil dan orang-orang yang terkenal, baik dari segi akhirat maupun dunianya adalah mereka-mereka yang sudah direncanakan matang-matang pendidikannya. Dan arah daripada keberhasilan anak tersebut di dalam bidang-bidang tertentu, ditentukan oleh kedua orang tuanya semenjak kecil. Dan jika kita telusuri dari manaqib para ulama dan awlia, maka kita dapatkan mereka telah dididik oleh kedua orang tuanya atau salah satunya dari semenjak kecil hingga remaja. Dan itulah fase-fase yang sangat menentukan. Coba kita lihat dan pelajari manaqib mereka pasti akan kita dapatkan bahwasanya mereka telah dididik oleh orang tuanya semenjak kecil dengan pendidikan yang ketat dan telaten, seperti contohnya Imam Syafi’i, dimana dia telah menghafalkan Al-Qur’an semenjak umur 7 tahun, umur 10 tahun dia menghafal Muwattho’ dan umur 15 tahun dia sudah diizinkan oleh gurunya Imam Muslim Az-Zanji untuk memberikan fatwa atau sudah ahli dalam memberikan fatwa. Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, pengarang wirid Rotib Al-Haddad yang semenjak kecil kedua matanya buta, Akan tetapi ibunya berhasil menjadikannya menghafal Al-Qur’an semenjak umurnya 6 tahun. Sehingga mereka menjadi seorang yang kuat dan kokoh dalam menghadapi segala keadaan dan fitnah di zamannya.
B. Empat Tahapan Di Dalam Mendidik Anak Agar Tahan Ujian Zaman. Di dalam cara kita mendidik anak-anak, maka ada tahapan-tahapan yang harus dilewati dan dengan cara-cara yang berbeda. Penting kiranya untuk kita mengetahui, bagaimana tahapan-tahapan anak dan cara pendidikan pada tahapan-tahapan tersebut, yaitu sebagai berikut:
1. Umur anak 0-7 tahun Rosulullah Saw memerintahkan kita untuk memanjakannya, mengasihinya dan menyayanginya dengan kasih sayang yang tidak terbatas, berikan kasih sayang kepada mereka tanpa adanya perbedaan sikap. Dan pada tahapan ini, hendaknya kita tidak boleh menggunakan cara mendidik berupa pemukulan jika mereka melakukan sebuah kesalahan. Tapi cukup dengan cara menegur dan memberitahu mana yang benar dan mana yang salah untuk dilakukannya. Karena dalam tahapan itu, seorang anak belum dapat menerima secara psikologis untuk mendapatkan teguran berupa pukulan. Hal itu tidak berguna bahkan membahayakan, Sehingga jika itu ditentang, biasanya anak itu tatkala besar nanti dia akan menjadi salah satu dari 3 sifat ini yaitu anak yang minder, mempunyai sifat pendendam dan pemurung.
2. Umur 7-14 tahun Pada tahapan ini kita diperintahkan oleh Nabi Saw untuk menanamkan nilai-nilai kedisiplinan dan tanggung jawab. Sebagaimana hal itu diperintahkan oleh Nabi Saw dalam hadits berikut ini:
مروا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع سنين، واضربوهم عليها وهم أبناء عشر، وفرقوا بينهم في المضاجع
“Perintahkanlah anak-anakmu untuk melaksanakan shalat ketika mereka berumur 7 tahun. Dan pukullah mereka ketika meninggalkannya ketika berumur 10 tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka antara yang laki-laki dan perempuan pada umur tersebut”. Inilah fase penting untuk membangun kedisiplinan, ketaatan dan ketahanan terhadap godaan. Anak yang terbiasa shalat sejak kecil akan lebih kuat menghadapi arus kerusakan di akhir zaman.
3. Umur 15-21 tahun. Pada umur sekian, para remaja telah tumbuh di dalam dirinya jiwa pemberontakan. Sehingga sebaiknya kedua orang tua mengadakan pendekatan yang bersifat perkawanan dengan mengajak mereka untuk berdiplomasi, berdiskusi, memperbincangkan tentang segala sesuatu yang terkait dengan sesuatu yang membahayakan dan sesuatu yang bermanfaat. Dengan begitu mereka akan lebih tahu dan lebih mengerti maksud dan tujuan suatu larangan maupun suatu kewajiban. Dan itu akan lebih baik daripada kita menerapkan pemukulan atau kekerasan kepada anak pada tahapan umur itu. Karena yang semacam itu akan menyebabkan anak-anak itu memberontak dan berani kepada orang tuanya dengan melawan kepada mereka, atau justru mereka akan minggat dari rumah. Oleh karenanya, pada masa-masa ini hendaknya lebih dikedepankan pendekatan perkawanan, diplomasi, dialog dan pendekatan ilmiah. Karena generasi anti badai bukan hanya yang patuh, tapi juga paham alasan agama, mengerti mana yang benar dan salah, serta sadar, bukan sekadar ikut-ikutan.
4. Umur 21 tahun lebih Seharusnya pada tahapan umur ini atau pada masa-masa ini, kedua orang tua telah memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada anak-anak dengan memberikan kebebasan kepada mereka untuk memutuskan sendiri apa yang diinginkannya, sehingga hal itu dapat menumbuhkan percaya diri dalam dirinya dan mampu untuk mengatasi segala macam permasalahan yang akan dihadapinya. Karena pada tahapan umur itu adalah masa-masa dia boleh mencoba untuk memimpin dalam sebuah perkawinan. Dengan begitu dia akan menjadi pemimpin yang baik dari istri dan anak-anaknya. Fase ini akan membentuk kemandirian, keberanian dan keteguhan prinsip. Sehingga ia siap menghadapi badai kehidupan tanpa bergantung kepada orang lain.
C. Kiat-kiat Mencetak Anak Anti Badai.
Berikut kiat penting yang harus diterapkan:
-
Memberikan pujian ataupun apresiasi tatkala seorang anak melakukan suatu hal yang terpuji atau suatu hal yang benar. Baik dengan ucapan ataupun memberikannya sebuah hadiah yang menyenangkannya. Misalnya dengan ucapan, “Engkau adalah anak yang baik karena engkau telah membantu temanmu”. Anak yang dihargai akan percaya diri, termotivasi dan berani berbuat baik.
-
Berusaha untuk berkomunikasi dengan anak menggunakan bahasa yang mudah difahami serta sesuai dengan pemahaman anak tersebut. Maka tidak benar jika seorangtua berkata kepada anaknya, “Kamu jangan melakukan ini. Karena ini bukan urusan anak kecil”. Jangan mematikan rasa ingin tahu anak. Didik dengan penjelasan, bukan larangan kosong.
-
Memanggil anak tersebut dengan panggilan yang disenanginya. Dan jangan sekali-kali orangtua memanggil anaknya dengan panggilan yang tidak menyenangkan anaknya tersebut, Karena hal itu sangat membekas pada perilakunya di masa yang akan datang. Misalnya memanggilnya dengan sifatnya: “Hai gemuk…”, “Hai kurus…” atau dengan tabiatnya, contoh: “Hai tukang bohong…”, “Hai tukang tidur…” “Hai rakus” dan lain sebagainya. Karena ucapan orang tua adalah doa. Dan dengan celaan akan membentuk mental yang lemah.
-
Banyak bercerita kepada anak anak dengan cerita-cerita tauladan. Karena sebuah cerita merupakan salah satu senjata dan kiat untuk merubah moralitas seorang anak. Dengan cerita semangat seorang anak akan bangkit, baik perilakunya karena ingin meniru tokoh tersebut, termotivasi untuk berprestasi, serta kuat pendiriannya. Cerita orang-orang sholeh akan menguatkan iman, membentuk karakter dan menanamkan cita-cita tinggi.
-
Berkomunikasi dengan anak selalu dengan cara yang baik. Misalnya setelah anak itu membantu orangtuanya, maka berkata “Terima kasih…” atau “Pintar sekali kamu nak, karena telah membantu ibu”. Atau mendo’akannya, “Jazakumullah khair…”. Dan hindari menggunakan kata-kata yang tidak baik ketika menghardik atau menegur anak. Seperti sumpah serapah “Dasar anak bodoh!”, “Dasar muka jelek!”, “Dasar bangsat” dan lain sebagainya. Karena kata-kata tersebut merupakan doa. Berkatalah yang baik, karena akan menenangkan jiwa, menguatkan hubungan dan membentuk akhlak.
-
Setiap orangtua hendaknya sering memuji anaknya di depan orang lain. Hal ini untuk membangun harga diri anak agar tidak mudah runtuh oleh hinaan orang lain.
-
Kedua orangtua hendaknya mengajak anaknya untuk bersenda gurau dan bermain dengan mereka sebagaimana dilakukan Nabi Muhammad Saw kepada Sayyidina Hasan dan Husain. Hal ini membangun kedekatan emosional.
-
Hendaknya kedua orangtua sering memeluk dan mencium anak-anaknya sebagai ungkapan kasih sayang agar anak merasa aman, disayang, dan bahagia.
-
Menggauli anak-anaknya dengan lemah lembut serta penuh kehangatan dan kasih sayang. Ucapkan kata-kata lembut, wajah tersenyum, disertai pelukan dan ciuman hangat. Merupakan tindakan ceroboh jika orangtua datang ke rumah dengan wajah masam, cemberut, atau marah-marah. Orangtua semacam ini akan membuat anak lari ketakutan dan bersembunyi. Hal ini tidak mendidik karena anak akan meniru perilaku tersebut dan tumbuh menjadi anak yang minder, pemalu, serta penakut.
-
Hendaknya kedua orangtua memberikan perhatian dan menampakkan perhatian tersebut kepada anak-anaknya, misalnya jangan memarahi ketika wajahnya lusuh atau bajunya kotor, tapi tunjukkan kasih sayang dengan bertanya lembut.
-
Hendaknya kedua orangtua memberikan penghargaan berupa hadiah yang disenanginya ketika anak berhasil melakukan sesuatu yang baik agar dia lebih bersemangat menerapkannya kembali sebagai tabiatnya.
-
Hendaknya kedua orangtua menjawab setiap pertanyaan yang datang dari anak-anaknya serta membiasakan mereka untuk bertanya.
-
Hendaknya kedua orangtua menerima segala saran dan menampung segala kritik dari anak.
-
Hendaknya kedua orangtua menerapkan keadilan di antara anak-anaknya baik dalam pemberian, ungkapan perasaan, sebutan panggilan maupun penyambutan. Rasulullah Saw bersabda: سَرُّوا بَينَ أَوْلادِكُم في العطية “Hendaknya kalian menyamaratakan dalam pemberian di antara anak-anak kalian” (H.R Tabroni).
-
Hendaknya kedua orangtua tidak membanding-bandingkan di antara mereka karena hal itu menumbuhkan rasa permusuhan dan persaingan.
-
Hendaknya kedua orangtua memberikan tauladan sebelum memerintah agar anak mudah meniru dan bersemangat melakukannya.
Itulah kiat-kiat yang harus dilaksanakan orangtua di dalam mendidik anak-anaknya agar menjadi anak-anak yang sholih dan sholihah, generasi yang kuat menghadapi badai fitnah akhir zaman dan menjadi investasi dunia akhirat bagi orangtuanya.
“Ya Allah, berilah petunjuk kepada anak-anak kami, perbaikilah mereka, dan jadikan mereka termasuk orang-orang yang shalih. Lindungilah mereka dari fitnah zaman, baik yang tampak maupun yang tersembunyi”. Aamiin.
Berikut adalah ringkasan poin-poin penting dari materi seminar “Mencetak Anak Anti Badai” oleh Al-Habib Segaf Baharun:
1. Filosofi Dasar Pendidikan Anak
-
Investasi Akhirat: Anak adalah investasi terbesar orang tua yang menentukan keberhasilan di dunia dan akhirat.
-
Peran Sentral Orang Tua: Karakter dan keyakinan anak (apakah menjadi shalih atau sebaliknya) sangat ditentukan oleh pola didik orang tuanya.
-
Generasi Anti Badai: Tujuan utama adalah membentuk anak yang memiliki akidah dan akhlak kokoh sehingga tidak goyah oleh fitnah akhir zaman.
2. Empat Tahapan Usia Pendidikan
Materi ini membagi pendidikan berdasarkan perkembangan psikologis anak:
-
Usia 0-7 Tahun (Masa Kasih Sayang): Anak dimanjakan dengan kasih sayang tanpa batas. Dilarang keras menggunakan pukulan karena secara psikologis anak belum bisa menerimanya.
-
Usia 7-14 Tahun (Masa Disiplin): Mulai menanamkan tanggung jawab, khususnya ibadah shalat. Pukulan edukatif diperbolehkan pada usia 10 tahun jika meninggalkan kewajiban.
-
Usia 15-21 Tahun (Masa Sahabat): Mengedepankan pendekatan dialog, diplomasi, dan diskusi. Hindari kekerasan agar anak tidak memberontak atau lari dari rumah.
-
Usia 21 Tahun ke Atas (Masa Kepercayaan): Orang tua memberikan kebebasan dan kepercayaan penuh agar anak mandiri dan siap menjadi pemimpin dalam kehidupannya sendiri.
3. Kiat Praktis Mencetak Karakter Kuat
-
Apresiasi & Hadiah: Berikan pujian atau hadiah saat anak melakukan kebaikan untuk membangun kepercayaan diri.
-
Komunikasi Positif: Gunakan bahasa yang mudah dipahami, panggilan yang baik, dan hindari sumpah serapah atau celaan karena ucapan orang tua adalah doa.
-
Cerita Tauladan: Gunakan kisah orang shalih sebagai senjata untuk mengubah moralitas dan membangkitkan semangat anak.
-
Kedekatan Emosional: Sering memeluk, mencium, dan mengajak anak bermain untuk memberikan rasa aman dan bahagia.
-
Keadilan & Keteladanan: Berlaku adil kepada semua anak dan menjadi contoh nyata (role model) sebelum memerintahkan sesuatu.
Majelis Subuhan Al-Busyro, Ahad, 19 April 2026 M / 02 Dzul Qo’dah 1447 H
