Rahasia Rezeki Berkah Tanpa Takut Miskin

Posted on

 By Assoc. Prof. Dr. Al-Habib Segaf Baharun, M.Η.Ι

Ahad, 3 Mei 2026 Μ. / 15 Dzulqo’dah 1447 H.

A. Apa Itu Rezeki?

Rezeki adalah salah satu daripada empat hal yang sudah ditetapkan sebelum kita lahir dan Allah turunkan kenyataannya sesuai yang telah ditentukannya di alam azali, ketika kita berada di dalam perut ibu kita selama 120 hari atau 4 bulan, ditetapkan rezekinya, nyawanya, ajalnya, kemudian dia termasuk orang yang berbahagia atau termasuk orang yang sengsara.

Rezeki ada dua macam, yaitu:

  1. Rezeki hissiy adalah rezeki yang bisa dijangkau dengan panca indera.

  2. Rezeki ma’nawiy adalah yang tidak bisa dijangkau oleh panca indera.

Rezeki hissiy itu seperti kita punya mobil, kita punya rumah, kita mendapatkan uang yang melimpah, kita mendapatkan pekerjaan yang menghasilkan sebuah gaji, yang bisa menunjang kehidupan kita, itu namanya rezeki hissiy. Sedangkan rezeki ma’nawiy itu lebih banyak daripada rezeki hissiy. Masalahnya, lebih banyak diberikan, tapi lebih sedikit diusahakan. Dan itu karena rahmat-Nya Allah SWT. Dan itu lebih banyak diberikan oleh Allah Ta’ala, karena ternyata rezeki ma’nawiy itu lebih banyak.

Contoh Rezeki Ma’nawi, kita diberikan udara, oksigen, yang dengannya itu kita bernafas, kita bisa hidup. Harusnya kan kita tidak bisa melihatnya. Kita diberikan kekuatan, energi, taufiq, hidayah, maghfiroh, sakinah yang diturunkan di majelis taklim sehingga kita merasa tenang, hati dan jiwa kita, sehingga kita hadir majelis taklim, itu adalah rezeki ma’nawiy. Kita diberikan ampunan dari dosa kita, kita diberikan ma’unah oleh Allah SWT, kita diberikan senang kepada orang lain, kita terlintas di hati kita untuk membantu orang lain dan lain sebagainya, itu adalah rezeki-rezeki ma’nawiy yang Allah berikan. Bahkan, kalau kita mau melihat, rezeki ma’nawiy itu betapa banyaknya dan betapa melimpahnya, dan tanpa usaha serta upaya, bahkan berdoa pun kita tidak memintanya.

Rezeki adalah Ujian Kemudian, rezeki itu akan terus berkesinambungan atau terputus, nah itu kehendak-Nya Allah, bukan kehendak kita. Karena tujuannya Allah Ta’ala itu dengan segala macam ketentuan-Nya yang terkait dengan manusia adalah untuk mengujinya dan mencobanya. Sesuai dengan Firman-Nya dalam surat Al-Mulk:

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرُ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 1-2)

Dialah yang menciptakan kematian, dia pula yang menciptakan kehidupan. Tujuannya adalah apa? tujuannya adalah untuk mencari tau siapa di antara kalian yang terbaik amalnya, yang terbaik hatinya, yang terbaik perjuangannya, yang terbaik kesabarannya, yang terbaik semua sifat-sifat yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala melalui Nabi-Nya Muhammad SAW.

Dunia adalah tempat beramal. Nah makanya, dikatakan oleh sebagian ulama’, bahwasanya dunia ini adalah sebuah kompetisi. Yang membuat kompetisi siapa? Allah. Yang mengatur prosedurnya siapa? Nabi Muhammad. Sedangkan hadiahnya kapan? bukan di dunia, tapi nanti kelak di akhirat. Oleh karenanya, Al Imam Ahmad bin Hambal RA berkata: “Jadi, dunia itu adalah rumah untuk kita bekerja, tapi nanti di akhirat adalah rumah untuk kita mendapatkan upahnya”.

Semua orang diberi modal oleh Allah. Di antara kita semuanya oleh Allah Ta’ala diberikan rezeki yang sama, tidak ada yang beda. Yang alim dengan ilmunya, yang kaya dengan kekayaannya, yang pejabat dengan jabatannya, yang ahli ibadah dengan ibadahnya, semuanya itu sama. Kalau dia itu benar-benar memiliki ilmunya Nabi Muhammad SAW, maka dia itu akan terbuka pikirannya bahwasanya semua yang Allah berikan itu adalah sesuai dengan keadilan-Nya. Cuma siapa di antara kita yang tahu, yang paling tahu dengan modal yang Allah berikan itu dan bagaimana cara penggunaannya. Adalah yang paling tahu dengan ilmunya Nabi Muhammad SAW. Yang paling banyak berkumpul dengan ulama, yang paling banyak duduknya dengan ulama, maka dialah yang paling tahu bagaimana cara menggunakan dengan maksimal modal yang Allah berikan itu.


B. Apa Itu Berkah?

Ulama berkata, bahwasanya keberkahan itu definisinya adalah زيادة في الخير Sebuah pertambahan dalam suatu kekebaikan. Suatu hal yang akan bertambah dalam suatu kebaikan, baik kebaikan itu berupa umur, kebaikan itu berupa anugerah, kebaikan itu berupa harta benda, kebaikan itu berupa keadaan, maka ketika diberikan keberkahan di situ, akan bertambah kebaikannya. Jabatan baik, tapi kalau ada berkahnya lebih baik. Anak istri baik, tapi kalau ada berkahnya lebih baik. Harta benda, baik, tapi kalau ada berkahnya lebih baik.

Nah jadi berkah itu merupakan sebuah kunci daripada semua anugerah Allah. Kita lihat bagaimana orang-orang dahulu, orang tua kita, mereka itu kalau seumpama datang kepada orang sholeh, datang kepada orang alim, datang kepada orangtua, ziarah kepada makam wali, itu selalu yang diminta berkah, tidak sama seperti permintaan kita yang macam-macam, panjang panjang, yang lebar-lebar, yang luas-luas, tanpa batas.

Doa itu kan suatu harapan, bukan suatu amalan, tapi kalau yang tanpa batas itu adalah amalan, itu lebih baik daripada harapan-harapan tanpa batas. Itu kalau terkait dengan Allah, terkait dengan akhirat, tidak jadi masalah, tapi kalau terkait dengan dunia, itu thuulul ‘amal. Tapi kalau amalan tanpa batas, itu baik sekali, kita mau sholat tanpa batas, kita mau shodaqoh tanpa batas, kita mau puasa tanpa batas, itu bagus sekali, itulah amalan. Tapi kalau harapan harus ada batasnya.

Tatkala kita tahu bahwasanya sebuah harapan atau angan-angan itu ada batasnya, maka kita harus memilih-milih mana yang terbaik, sehingga kita doakan dan kita berharap kepada Allah Ta’ala yang terbaik. Kita doa, ada waktunya, waktunya juga terbatas, karena juga waktu, waktu itu juga terbatas. Jadi semuanya terbatas, karena kita tahu bahwasanya umur kita juga terbatas, maka kita itu akan memilih-milih mana yang terbaik daripada yang baik, itu yang harusnya, jangan sampai kita itu membuat harapan yang tanpa batas. Kalau itu sifatnya, harapan harus dibatasi, cari yang terbaik, karena apa? umur kita terbatas, kemampuan kita terbatas, energi kita terbatas, kita menikmatinya juga terbatas, semua terbatas, kesenangan kita di dunia.

Oleh karena itu, maka di sini kita harus memilih-milih mana yang terbaik daripada yang baik, jadi keberkahan itu adalah sebuah pertambahan kebaikan pada suatu kebaikan, atau pertambahan suatu kebaikan yang berlipat lipat dalam kebaikan tersebut. Sebagaimana Imam Ali bin Muhammad Al-Habsyi shohibul Maulid berkata:

حَبَّةُ إِذَا بَارَكَ الْمَوْلَى تَلَقَّي الْحُبُوبَ “Satu biji, kalau Allah berkati dalam satu biji itu, bukan hanya menjadi satu biji, tapi menjadi ribuan biji, bahkan ratusan ribu biji, bahkan jutaan biji, itu namanya barokah, ziyadah fil kheyr”.

Jadi pertambahan pada kebaikan, seperti seorang yang cuma sedikit belajarnya, cuma setahun, tapi berkah, akhirnya apa? ilmu yang belajar 1 tahun itu, seakan-akan dia itu belajarnya itu selama 15 tahun, 20 tahun, 30 tahun dan sebagainya, Itu berkah. Kita lihat, bagaimana Nabi kita Muhammad SAW ketika dalam suatu peperangan, beliau dengan mukjizatnya, memberikan gambaran akan keberkahan, apa itu? ada air, tapi sedikit, tidak cukup untuk wudhu mereka, sehingga pada saat itu kemudian dicetuskan, ditasyri’kan syariat tayammum, tapi air itu diperlukan untuk minum, bukan hanya untuk wudhu, sehingga kemudian, oleh nabi diminta air yang ada, yang hanya sedikit, kemudian diletakkan tangannya Nabi SAW di dalam air itu. Subhanallah, air itu cukup untuk seluruh para prajuritnya, para tentaranya, sahabatnya yang jumlahnya itu ribuan orang, di satu tempat air, tapi cukup untuk mereka semuanya, ini yang namanya berkah, walaupun bentuknya mukjizat, nah itu kan keberkahan namanya.

Dan keberkahan itu, bagaimana kita mendapatkannya? tidak ada lain kecuali dengan cara taat, dan itu berdasarkan hadits Nabi yang bersumber dari pada Allah Ta’ala yang dinamakan dengan Hadits Qudsi, diriwayatkan langsung oleh Nabi kita Muhammad SAW, Apa itu?. Allah Ta’ala berfirman dalam hadits qudsinya:

إِذَا أَطَاعَنِي عَبْدِي رَضِيتُ عَنْهُ، وَإِذَا رَضِيتُ عَنْهُ بَارَكْتُ فِيهِ وفِي أثره، ولا نهاية لها لبركته.

“Tatkala seorang hamba dari hamba-ku itu melaksanakan sebuah ketaatan, aku rela kepadanya, tatkala aku rela kepadanya, aku berkati dirinya dan semua hal yang terkait dengannya, dan ketahuilah,” kata Allah Ta’ala, “keberkahan-Ku itu tidak terbatas sampai keturunan yang keberapa pun”.

Kemudian kalau seumpama seorang hamba telah bermaksiat kepada Allah, maka Allah melaknatnya, apa artinya laknat? laknat itu artinya kata ulama adalah dijauhkan dari pada rahmat-Nya Allah Ta’ala, yaitu apes, mau kerja apes, mau beli modal apes bangkrut, dan sebagainya. Sebabnya apa? karena Allah Ta’ala:

وَإِذَا عَصَانِي عَبْدِي سخطت عَلَيْهِ، وَإِذَا سَخطت عَلَيْهِ لَعَنْتُهُ، وَإِنَّ لعنتي تلحق السابع من ولده.

“Ketika seorang hamba daripada hamba-Ku itu telah berbuat maksiat kepada-Ku, Aku akan murka kepadanya, Dan ketika Aku murka kepadanya, maka Aku laknat dia, Dan ketahuilah bahwasanya laknat-Ku akan sampai ke keturunannya yang ke-7”.


C. Apa Sebab Keberkahan?

Sebab-sebab atau amalan-amalan, tindakan-tindakan, atau kelakuan-kelakuan yang bisa memantik keberkahan yang luar biasa, ada beberapa hal, di antaranya adalah:

1. Berbakti kepada kedua orang tua. Pesugihan yang nomor satu yang paling luar biasa itu adalah berbakti kepada kedua orang tua. Kesimpulan daripada berbakti kepada kedua orang tua itu, adalah bagaimana caranya supaya kita itu membuat ridho orang tua, itu artinya berbakti, melayani, memberikan hadiah, duduk berdiskusi, membuat sebuah hal yang menjadikan membuahkan relaksi, sepertinya memijatinya, membantunya, memasak, membantunya, menyapu, ketika mereka datang kita berdiri, memuliakan, menghormati, dan selalu kita itu mencari-cari kesempatan untuk berada di dalam hatinya. Apapun yang diperintahkannya kita menjadi orang yang terdepan untuk melaksanakannya.

Siapa di antara kita yang paling berada di dalam hati Ayah kita, atau ibu kita, atau keduanya apa lagi, maka kita akan menjadi orang yang paling kaya di dunia. Jadikan kedua orang tua itu bagaikan raja, akan dilayani, aktivitasnya semuanya kita gantikan, jaga perasaannya, taat saat diperintahnya, junjung tinggi martabatnya. Maka dengan semacam itu kita berada di dalam hatinya, dan nanti setelah itu, kita akan mendapatkan keberkahan hidup, keberkahan keluarga, keberkahan ilmu, keberkahan amal, keberkahan harta benda, keberkahan semuanya.

2. Majelis Taklim. Sebab yang kedua adalah majelis taklim. Karena sumber utama turunnya rahmat Allah Ta’ala berupa apapun juga itu adalah majelis taklim.

ما اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَذْكُرُونَ اللَّهَ فِيهِ إِلَّا وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَنَزَلَتْ فِيهِمُ الرَّحْمَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di antara rumah-rumah Allah sambil membaca kitabullah, dan saling mempelajari di antara mereka, kecuali akan turun kepada mereka ketenangan, dan diberikan rahmat serta malaikat akan menaunginya, dan mereka akan diingat di sisi Allah.” (HR. Abu Dawud)

Tidak berkumpul seseorang untuk berdzikir kepada Allah Ta’ala, mengingat Allah Ta’ala, mencari cara bagaimana cara meraih ridho Allah Ta’ala, mencari cara bagaimana kita itu tidak melaksanakan sesuatu yang dilarang oleh Allah Ta’ala, mencari cara bagaimana cara kita melaksanakan semua perintahnya Allah Ta’ala, itu namanya dzikir. Kecuali akan turun kepadanya itu rahmat, bahkan malaikat itu meletakkan sayapnya, tunduk, duduk semuanya di situ, kenapa? mengharap keberkahan yang Allah turunkan di situ. Dari tempat itulah kemudian Allah memberikan rahmat dan menyebarkannya ke tempat-tempat yang di sekitarnya, sampai tempat yang jauh. Tambah banyak majelis, tambah banyak berkah, tambah banyak majelis, tambah banyak rahmat, tambah banyak majelis, tambah banyak sebab-sebab turunnya kesejahteraan, keamanan, kenyamanan hidup.

3. Sholat Tahajud dan Bangun Malam Di antara sebab-sebab berkah juga adalah kita melaksanakan sholat tahajjud. Itu yang luar biasa dan tidak kita dapatkan, kecuali dengan kita menjemputnya, bagaimana kita menjemputnya? bangun malam.

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا تَحْمُودًا

“Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra 79).

Jadi bangun malam itu, orang yang biasa bangun malam, penuh dengan keberkahan hidupnya, karena berkah pada saat itu diturunkan.

إِنَّ اللَّهَ بَارَكَ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا

“Sesungguhnya Allah memberkahi umatku pada waktu pagi mereka.” (HR. Abu Dawud) ini diawali dari pagi hari sebelum sahur.

Bangun malam dan jangan tidur, kecuali setelah isyraq, supaya kita dapat keberkahan pada pagi hari itu. Makanya jangan tidur, janganlah sudah bangun malam tidak, habis subuh tidur, nah itu diharamkan rezeki itu padanya, tidak dapat berkah dia.

4. Shodaqoh Di antara sebab-sebab keberkahan juga itu adalah shodaqoh.

مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ (رواه الترمذي)

“Tidak akan berkurang harta seorang hamba karena sedekah”.

Paling sedikit apa yang kita shodaqohkan, akan kembali kepada kita 3 kali lipatnya. Kalau kita itu shodaqoh Rp100.000 berarti akan kembali 30 juta, tapi kita harus yakin karena “Al-madad fil masyhad”, katanya para ulama’, jadi kalau kita itu ingin membeli suatu pemberian, maka kuatkan keyakinan kita.” Itulah harganya, jadi segala sesuatu itu walaupun di tangan Allah Ta’ala dan karunia Allah Ta’ala itu juga ada harganya, harganya pemberian Allah Ta’ala itu dengan keyakinan diri.

5. Mendekati Orang Sholeh dan Ulama Ini termasuk sebab-sebab untuk kita mendapatkan berkah dengan mendekat kepada mereka, kalau kita bukan orang yang penuh dengan keberkahan, maka mendekatlah pada mereka. Siapa orang yang paling banyak berkahnya? orang yang paling baik berkahnya adalah para ulama. Para ulama itu adalah para pewaris para Nabi. Artinya apa? pewaris, bukan cuma pewaris ilmunya, pewaris berkahnya, pewaris syafaatnya, pewaris syafaqohnya, pewaris rahmatnya, pewaris semuanya. Dan di antara yang diwarisi oleh para ulama itu adalah keberkahannya. Ulama itu adalah sasaran seputar Nabi kita Muhammad SAW, apapun yang kita ingin dapatkan daripada Nabi Muhammad, ada pada diri para ulama.

6. Mencintai Dzurriyyah Nabi SAW. Diantara sebab keberkahan adalah mencintai para dzurriyat Nabi Muhammad SAW, kita mencintainya bukan karena mereka, tapi karena Nabi Muhammad SAW. Karena sebagaimana dijelaskan bahwasanya orang yang taat saja kepada Allah, Allah akan ridho kepadanya, ketika Allah ridho kepadanya, Allah akan memberkati dirinya dan semua hal yang terkait dengannya, dan keberkahannya tidak akan ada batasnya. Disebutkan dalam hadits qudsi seperti itu.

Maka kalau ini terkait dengan orang sholeh, bagaimana kalau seumpama terkait dengan seorang wali? kalau ini terkait dengan seorang wali, bagaimana kalau terkait dengan Nabi Muhammad SAW? sehingga maksudnya itu adalah termasuk manusia-manusia yang penuh dengan keberkahan.

أدبُوا أَوْلَادَكُمْ عَلَى ثَلَاثِ خِصَالٍ : حُبِّ نَبِيِّكُمْ ، وَحُبِّ أَهْلِ بَيْتِهِ، وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ

“Hendaknya kalian ajarkan didik anak kalian kepada tiga hal. Yang pertama, kepada cinta pada Nabi kalian. Yang kedua, untuk mencintai keluarga Nabi kalian. Yang ketiga, kepada membaca Alqur-an”.

Siapapun dari kita yang mengikuti jejak Nabi Muhammad SAW, mengikuti arahannya, melaksanakan syariatnya, pasti hidupnya bahagia. Bahagia dunia, bahagia di alam kuburnya, bahagia di alam mahsyarnya, hidupnya bahagia ketika melewati shirathnya, dan hidupnya bahagia ketika nantinya bertetangga dengan Nabi kita Muhammad SAW.


Doa Penutup

Ya Allah, limpahkan kepada kami rezeki yang halal, luas, berkah dan menenangkan hati. Jauhkan kami dari rezeki yang haram, dari kefakiran yang melalaikan, dan dari hati yang selalu merasa kurang. Ya Allah, cukupkan kebutuhan kami dengan karunia-Mu, berkahilah keluarga kami, anak-anak kami, pekerjaan kami, dan seluruh kehidupan kami di dunia maupun di akhirat. Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin.

INFAQ AL-BUSYRO Partisipasi Kegiatan Majelis Subuhan Al-Busyro Salurkan Bantuan Anda Melalui Rekening di bawah ini: BSM: 7131 3383 46 a/n: Segaf Baharun

Informasi Lanjut: Facebook.com/komsubuhan.albusyro | Twitter.com/subuhanbusyro | [email protected]