SAAT PASANGAN TIDAK LAGI SEJALAN
By Assoc. Prof. Dr. Al-Habib Segaf Baharun, M.H.I
Ahad, 31 Mei 2026 M. 14 Dzul Hijjah 1447 H.
A. Perbedaan Jalan Bukan Berarti Berakhirnya Perjalanan. Di awal pernikahan, banyak pasangan merasa bahwa mereka akan selalu berjalan dalam arah yang sama. Mereka memiliki mimpi, cita-cita, semangat, bahkan kebiasaan yang serupa. Namun seiring berjalannya waktu, banyak hal yang berubah. Ada yang berubah cara berpikirnya, prioritas hidupnya, semangat ibadahnya, atau cara memandang kehidupan.
Lalu tibalah suatu masa ketika salah satu pasangan bertanya dalam hatinya, “Mengapa rasanya kami tidak lagi berjalan di jalan yang sama?” Inilah salah satu ujian terbesar dalam rumah tangga. Bukan ketika cinta telah hilang, tetapi ketika cinta masih ada namun arah langkah mulai berbeda.
Banyak orang mengira bahwa ketidakselarasan berarti rumah tangga telah gagal. Padahal tidak demikian. Perbedaan bukanlah masalah utama. Yang menjadi masalah adalah ketika perbedaan berubah menjadi pertengkaran, egoisme, dan permusuhan. Rumah tangga tidak membutuhkan dua orang yang sama dalam segala hal, tetapi hai dua orang yang sama-sama ingin berjalan menuju ridha Allah. Selama tujuan akhirnya masih sama, yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat, maka perbedaan-perbedaan itu masih dapat disatukan dengan kesabaran, komunikasi, dan saling pengertian.
B. 3P Ciri Suami Shalih. Di antara ciri suami shalih yang sangat dibutuhkan dalam kondisi tidak sejalannya antara pasangan adalah 3P berikut ini:
1. Peka Suami yang shalih tidak hanya mendengar kata-kata istrinya, tetapi juga memahami keadaan hatinya. la mampu merasakan ketika istrinya sedang sedih, kecewa, lelah, atau menghadapi masalah meskipun tidak selalu diungkapkan dengan kata-kata. Kepekaan membuat seorang suami mampu membaca perubahan-perubahan kecil dalam diri istrinya sehingga masalah dapat diselesaikan sebelum menjadi besar.
2. Perhatian Perhatian adalah bahasa cinta yang paling mudah dirasakan. Tidak semua perhatian harus berupa harta atau hadiah yang mahal. Kadang perhatian berupa pertanyaan sederhana, mendengarkan keluhan, membantu pekerjaan rumah, atau meluangkan waktu untuk berbicara dari hati ke hati.
Saat pasangan tidak lagi sejalan, perhatian menjadi jembatan yang menghubungkan kembali dua hati yang mulai menjauh. Sebaliknya, sikap cuek dan tidak peduli sering kali memperlebar jarak di antara keduanya.
3. Pengertian Setiap manusia memiliki kekurangan dan kelemahan. Karena itu, seorang suami harus memiliki sifat pengertian terhadap kondisi istrinya. Tidak semua kesalahan harus dibesar-besarkan. Tidak semua kekurangan harus dipermasalahkan. Kadang yang dibutuhkan seorang istri bukan nasihat panjang, tetapi suami yang mau memahami keadaan dan perasaannya.
Pengertian melahirkan kesabaran. Dengan pengertian, suami mampu melihat masalah secara bijak, tidak mudah menyalahkan, dan tidak terburu-buru mengambil keputusan ketika terjadi perselisihan.
C. 3M Ciri Istri Shalihah Sebagaimana suami memiliki peran penting dalam menjaga keutuhan rumah tangga, demikian pula seorang istri. Ketika muncul perbedaan dan ketidaksejalanan dalam rumah tangga, istri shalihah berusaha menjaga suasana tetap tenang dan penuh keberkahan. Di antara sifat yang sangat berharga adalah Tidak Marah, Tidak Membantah, dan Tidak Banyak Meminta.
1. Tidak Marah Yang dimaksud bukan berarti seorang istri tidak pernah marah sama sekali, karena marah adalah sifat manusiawi. Namun istri shalihah mampu mengendalikan kemerahannya dan tidak menjadikan emosi sebagai dasar dalam bertindak.
Banyak rumah tangga yang retak bukan karena masalah besar, tetapi karena emosi yang tidak terkendali. Kalimat yang diucapkan saat marah sering meninggalkan luka yang sulit disembuhkan. Ketika menghadapi perbedaan dengan suaminya, istri yang shalihah lebih memilih menenangkan diri, menjaga lisannya, dan mencari waktu yang tepat untuk menyampaikan pendapatnya.
2. Tidak Membantah Maksudnya bukan menghilangkan hak istri untuk berbicara atau memberikan pendapat, tetapi tidak menjadikan setiap pembicaraan sebagai ajang perdebatan.
Ada perbedaan antara berdiskusi dan membantah. Berdiskusi bertujuan mencari solusi, sedangkan membantah bertujuan memenangkan diri sendiri. Istri yang shalihah tetap dapat menyampaikan pendapatnya dengan santun dan penuh adab. la memahami bahwa menjaga kehormatan suami merupakan salah satu sebab datangnya keberkahan dalam rumah tangga.
Ketika suami dan istri sama-sama ingin menang sendiri, maka rumah tangga akan dipenuhi pertengkaran. Namun ketika salah satunya memilih merendahkan ego demi kebaikan bersama, maka ketenangan akan lebih mudah terwujud.
3. Tidak Banyak Meminta Salah satu ujian terbesar dalam rumah tangga adalah tuntutan yang berlebihan. Istri yang shalihah memahami kemampuan dan keadaan suaminya. Ketika pasangan tidak lagi sejalan karena tekanan ekonomi atau berbagai kesulitan hidup, sikap qana’ah dan menerima dengan lapang dada menjadi penyejuk bagi suami. Sebaliknya, tuntutan yang terus-menerus sering membuat beban rumah tangga semakin berat.
Istri yang tidak banyak meminta akan lebih mudah melihat kebaikan suaminya daripada kekurangannya. Dari sinilah tumbuh rasa syukur, ketenangan, dan keharmonisan dalam keluarga.
D. Role Model (Teladan) Suami Sholeh dan Istri Sholehah Sifat Tidak Marah, Tidak Membantah, dan Tidak Banyak Meminta bukanlah sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan. Sifat-sifat tersebut telah dicontohkan oleh banyak wanita shalihah sepanjang sejarah, termasuk para ulama dan orang-orang saleh di zaman ini.
Di antara teladan yang sering diceritakan adalah sosok Ibunda Hubabah Khadijah Alhinduan. Selama 27 tahun mendampingi suaminya dalam perjuangan dakwah, pendidikan, pembangunan pesantren dan pelayanan kepada umat, beliau dikenal sebagai sosok istri yang sangat menjaga adab kepada suaminya. Ibunda Hubabah Khadijah dikenal sebagai wanita yang berusaha menjaga dirinya dari sifat marah kepada suami, tidak membantah perintah dan arahan suaminya dalam perkara yang ma’ruf, serta tidak membebani suaminya dengan berbagai tuntutan duniawi.
Di sisi lain, Ayahanda Abuya Al-Habib Hasan Baharun juga dikenal sebagai suami yang penuh kasih sayang dan tanggung jawab. Beliau merupakan contoh suami yang mengamalkan 3P, yaitu Peka, Perhatian, dan Pengertian. Beliau peka terhadap kebutuhan keluarga, perhatian kepada istri dan anak-anaknya di tengah kesibukan dakwah dan pendidikan, serta pengertian dalam membimbing dan memperlakukan keluarganya dengan kelembutan dan kebijaksanaan. Karena itulah hubungan keduanya tidak hanya dibangun di atas kewajiban, tetapi juga di atas saling menghormati, saling memahami, dan saling memuliakan.
Perpaduan antara istri yang menjaga 3M dan suami yang mengamalkan 3P inilah yang menjadi salah satu sebab lahirnya suasana rumah tangga yang penuh ketenangan, keberkahan, dan menghasilkan keturunan yang mencintai ilmu, dakwah, serta akhlak mulia.
Tentu bukan berarti Hubabah Khadijah tidak memiliki keinginan, perasaan, atau pendapat. Sebagaimana manusia lainnya, beliau juga memiliki kebutuhan dan harapan. Namun semuanya disampaikan dengan adab, kelembutan, kesabaran, dan penghormatan kepada suami. Demikian pula Abuya Habib Hasan Baharun memimpin keluarganya dengan kasih sayang, kebijaksanaan, dan keteladanan, sehingga rumah tangga mereka menjadi contoh nyata bagaimana suami dan istri dapat berjalan seiring menuju ridha Allah meskipun berbagai ujian kehidupan silih berganti datang menghampiri.
E. Kiat-kiat Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga.
Berkata al-Imam Ghozali dalam kitab Ihya’ “Bahwa jika pasangan suami istri melakukan hal di bawah ini niscaya akan langgeng rumah tangganya, harmonis serta bahagia baik di dunia maupun diakhirat; Adapun perkara-perkara itu adalah sebagai berikut:
-
Hendaknya pasangan suami istri tersebut sebelum menikah mempelajari ilmu agama yang berhubungan dengan nikah, sehingga hak masing-masing dapat terlaksana, karena bagaimana ia mengetahui hak masing-masing jika tanpa dasar ilmu agama, Rasulullah SAW sabda:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan memahamkannya dalam urusan agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)
-
Hendaknya seorang suami harus sabar menghadapi perlakuan maupun akhlaqnya yang tidak baik, karena bagaimanapun akal seorang wanita tidak sama dengan akal laki-laki sebagaimana sabda Nabi SAW:
مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينِ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ
“Aku tidak melihat seorang yang kurang akal dan agamanya yang menguasai akal laki-laki lebih dari perempuan.” (H.R. Bukhori)
Rasululloh SAW:
اتَّقُوا اللَّهَ فِي النِّسَاءِ، فَإِنَّهُنَّ عَوَانٍ عِنْدَكُمْ، أَخَذْتُمُوهُنَّ بِأَمَانَةِ اللَّهِ، وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللَّهِ
“Awaslah kalian dari perbuatan yang tidak baik kepada istri-istri kalian karena mereka bagaikan tawanan di tangan kalian, kalian telah mengambil mereka dengan amanat Allah dan menjadi halal bagi kalian kemaluannya dengan kalimat Allah.” (H.R. An Nasa’i)
Hendaknya seorang suami harus berusaha sebisa mungkin untuk bersifat romantis kepada istrinya, dengan mencandanya dan bermain dengannya sebagaimana hal itu dilakukan Rasulullah kepada istri-istri beliau.
-
Hendaknya seorang suami tidak terlalu mencemburui istrinya sampai kelewat batas. Sifat cemburu yang ada pada seorang suami merupakan sifat yang baik. Akan tetapi harus dicatat bahwa cemburu boleh dilakukan atau bahkan merupakan sifat yang baik jika pada tempatnya. Misalnya dia keluar rumah tanpa seizin suaminya atau berbicara dengan laki-laki ajnabi dan lain-lain.
-
Hendaknya seorang suami dalam memberi nafkah, mengambil jalan tengah yaitu tidak terlalu kikir atau terlalu boros karena keduanya dilarang oleh agama.
-
Hendaknya seorang istri mampu mempunyai sifat qonaah (menerima apa adanya) terhadap pemberian sang suami, dan tidak meminta sesuatu yang diluar kemampuan suami.
-
Hendaknya istri menjaga harta suami, dan tidak menafkahkannya kecuali dengan seizinnya.
-
Hendaknya seorang istri selalu tinggal dalam rumah suaminya dan tidak keluar darinya kecuali dengan izin dari suami dan jika diberi izin oleh suaminya hendaknya dia keluar rumah dengan pakaian muslimah.
-
Hendaknya seorang istri tidak banyak ngobrol dengan tetangganya kecuali untuk hal yang perlu saja.
-
Hendaknya seorang istri lebih mengutamakan kemauan suaminya dari pada kemauannya atau keluarganya.
-
Hendaknya seorang istri selalu tampil cantik mempesona di depan suaminya siap kapan pun untuk diajak berhubungan intim.
-
Hendaknya seorang istri sabar dalam mendidik anak-anaknya dan tidak gampang mengumpat mereka jika melanggar perintahnya, karena umpatan seorang ibu dapat menjadi kenyataan.
-
Hendaknya seorang istri tidak congkak terhadap suaminya baik dengan kecantikan maupun hartanya, akan tetapi jadilah seperti sayyidatina Khodijah radhiallahu ‘anha istri tercinta Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dimana dia asalnya seorang wanita yang kaya kemudian setelah Rasulullah diangkat menjadi Nabi beliau berikan semua hartanya demi kepentingan dakwahnya.
-
Hendaknya seorang istri melayani suaminya dengan semampunya, apakah itu pekerjaan rumah maupun pekerjaan lainnya yang diperintahkannya, asalkan tidak mengandung kemaksiatan.
F. Sebab-sebab Terjadinya Keretakkan Hubungan Suami Istri. Pada hakikatnya, banyak keretakan rumah tangga bermula dari ketidaktaatan kepada Allah dan mengikuti godaan setan. Padahal walaupun talak pada asalnya hukumnya mubah, ia merupakan perkara halal yang paling dibenci oleh Allah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
أَبْغَضُ الْحَلَالِ إِلَى اللَّهِ الطَّلَاقُ
“Perkara halal yang paling dibenci Allah adalah talak.” (HR. Abu Daud)
Perceraian sering menimbulkan berbagai dampak buruk, seperti penderitaan anak-anak, terputusnya hubungan kekeluargaan, dan hilangnya perhatian terhadap pendidikan serta masa depan anak. Oleh karena itu penting mengetahui sebab-sebab keretakan rumah tangga agar dapat dihindari demi terwujudnya keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.
1. Kebodohan tentang Hukum Pernikahan Setiap muslim wajib mempelajari ilmu yang berkaitan dengan apa yang akan dilakukannya, termasuk ilmu pernikahan. Dengan memahami hak dan kewajiban suami istri, seseorang akan mampu menjalani rumah tangga dengan baik serta menyelesaikan masalah secara benar. Sebaliknya, ketidaktahuan sering membuat pasangan bertindak menurut hawa nafsu sehingga mudah terjadi perselisihan dan perceraian.
2. Melepaskan Pandangan kepada yang Haram Pandangan yang tidak dijaga merupakan salah satu penyebab utama keretakan rumah tangga. Banyak perselingkuhan dan perceraian bermula dari pandangan yang haram. Ketertarikan kepada orang lain sering membuat seseorang mengabaikan pasangannya sendiri hingga memicu pertengkaran dan perpisahan.
3. Berpakaian dengan Pakaian Terlarang Islam memerintahkan wanita untuk menutup aurat demi menjaga kehormatan dan kesuciannya. Membuka aurat dapat menarik perhatian laki-laki yang bukan mahram dan menjadi sebab munculnya fitnah, gangguan, bahkan kerusakan rumah tangga. Karena itu menjaga aurat termasuk benteng penting bagi kehormatan diri dan keluarga.
4. Berjabat Tangan dengan Lawan Jenis Bersalaman dengan lawan jenis yang bukan mahram hukumnya haram karena dapat membangkitkan syahwat dan membuka pintu godaan setan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
إِنِّي لَا أَصَافِحُ النِّسَاءَ
“Aku tidak berjabat tangan dengan para wanita.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Nasa’i)
Hal yang dianggap ringan ini sering menjadi awal kedekatan yang tidak semestinya.
5. Karier Sang Istri Islam tidak melarang wanita bekerja selama tetap menjaga syariat dan tidak melalaikan kewajibannya sebagai istri dan ibu. Namun apabila pekerjaan menyebabkan berkurangnya perhatian kepada keluarga, kelelahan yang berlebihan, atau membuka peluang pergaulan yang tidak terjaga, maka hal tersebut dapat menjadi pemicu perselisihan dan keretakan rumah tangga.
6. Komunikasi dengan Lawan Jenis yang Melebihi Batas Setelah menikah, suami dan istri dituntut menjaga hubungan dengan lawan jenis. Komunikasi yang berlebihan, bercanda, curhat, atau menjalin kedekatan khusus dengan orang lain sering menimbulkan kecurigaan, kecemburuan, dan hilangnya kepercayaan yang akhirnya mengancam keutuhan rumah tangga.
7. Media Sosial dan Media Elektronik Media sosial dan media elektronik dapat menjadi penyebab keretakan rumah tangga apabila tidak digunakan secara bijak. Banyak pasangan lebih sibuk dengan telepon genggam daripada berinteraksi dengan keluarganya. Ada pula yang menjalin hubungan tersembunyi, menyembunyikan percakapan, atau membandingkan kehidupan rumah tangganya dengan apa yang dilihat di media sosial.
Selain itu, berbagai tayangan sering menampilkan gaya hidup yang bertentangan dengan ajaran Islam sehingga memengaruhi pola pikir dan perilaku seseorang. Karena itu, suami dan istri hendaknya menggunakan media secara bijaksana, menjaga adab dalam berkomunikasi, serta tidak membiarkan media menjadi penyebab renggangnya hubungan keluarga.
Semoga Allah SWT membimbing setiap keluarga muslim untuk mampu mengelola konflik rumah tangga dengan cara yang diridhai-Nya, menjadikan rumah tangga kita sakinah, mawaddah, dan rahmah, serta mengantarkan kita bersama pasangan dan keturunan menuju surga-Nya. Aamiin Ya Rabb Aalamiin.



Recent Comments